
Komponen Rangkaian Listrik
Satu hal yang hampir dimiliki oleh semua electrical engineer adalah kenyataan bahwa mereka merancang, memproduksi, memelihara, mengajar, atau menjual perangkat, peralatan, atau sistem yang pengoperasiannya bergantung terutama pada manipulasi listrik. Dalam sistem semacam ini, listrik merupakan sarana utama untuk mengubah energi, mentransmisikan atau memproses data, memantau atau mengendalikan peralatan atau proses lain, atau mengukur maupun mengamati berbagai fenomena. Memanipulasi listrik untuk tujuan yang bermanfaat adalah inti dari semua rangkaian listrik [1]. Pertimbangan dalam manipulasi sebuah listrik untuk tujuan tertentu dapat dipengaruhi oleh komponen di dalamnya.
Tidak mengherankan, perilaku suatu rangkaian listrik bergantung pada masing-masing komponen rangkaian yang menyusunnya. Tentu saja, berbagai jenis komponen rangkaian memiliki perilaku yang berbeda. Persamaan yang menggambarkan perilaku dari berbagai jenis komponen rangkaian ini disebut persamaan konstitutif. Sering kali persamaan konstitutif ini menggambarkan hubungan antara arus dan tegangan pada komponen tersebut. Hukum Ohm adalah salah satu contoh persamaan konstitutif yang terkenal [2].
Berdasarkan fungsinya komponen dari sebuah rangkaian listrik dapat dibagi menjadi dua yaitu komponen aktif dan pasif [2]-[4]. komponen pasif adalah komponen yang bertugas menyerap dan menyimpan daya atau energi listrik, sedangkan untuk komponen aktif betugas mentransfer daya atau energi pada rangkaian listrik [5], [6].

Sumber: https://erieit.edu/introduction-active-vs-passive-electronic-components/
Komponen Pasif
Secara umum, resistor, kapasitor, dan induktor dapat disebut dengan komponen pasif sesuai dengan pengertian dari fungsinya.
Resistor
Resistor disebut juga tahanan atau hambatan karena bersifat menghambat arus listrik dalam rangkaian untuk membatasi arus, sehingga ada daya yang hilang pada komponen ini. Daya yang hilang pada komponen ini berupa panas. Besarnya hambatan terhadap aliran arus disebut resistansi resistor.
| Resistansi diukur dalam satuan | : | Ohm ( |
| Notasi yang digunakan | : | R |
| Simbol | : |
Nilai resistansi yang lebih besar memperlihatkan hambatan yang lebih besar pula terhadap aliran arus. Kondisi ini sangat berkaitan dengan Hukum Ohm kondisi dan dapat tuliskan dalam sebuah persamaan sebagai berikut:

V adalah tegangan dalam (v), I adalah arus dalam (A), R adalah resistansi dalam (ohm). Berdasarkan rumus tersebut nilai resistansi berbanding terbalik dengan arus, sehingga jika semakin besar nilai hambatan maka akan semakin kecil pula nilai arus yang mengalir.

Sumber: https://www.protoexpress.com/kb/basic-components-overview/
Kapasitor
Merupakan komponen yang dapat menyimpan energi listrik dalam bentuk muatan listrik. Struktur kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal seperti udara vakum, keramik, gelas, dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberikan tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan listrik ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, fenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-muatan positif dan negatif di awan.

Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron dilambangkan dengan (C). Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = elektron. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs. Dengan rumus dapat ditulis :

Q adalah muatan elektron dalam (C), C adalah kapasitansi dalam (F), V adalah tegangan dalam (v). Karena arus memiliki hubungan dengan laju perubahan muatan setiap perubahan waktu dengan persamaan

Maka,
Oleh karena itu, jika tegangan pada kapasitor konstan, tidak akan ada arus yang mengalir melalui kapasitor, dan arus hanya akan mengalir melalui kapasitor jika tegangan pada kapasitor berubah seiring waktu, misalnya tegangan AC. Itulah mengapa kapasitor memblokir sinyal DC dan hanya memungkinkan sinyal AC untuk melewatinya ketika digunakan dalam rangkaian seri. Energi yang disimpan dalam kapasitor C yang telah diisi hingga tegangan V diberikan oleh:

Kapasitor terdiri dari dua pelat paralel (konduktor) yang dipisahkan oleh daerah non-konduktif seperti dielektrik, yang membentuk kapasitor. Nilai kapasitor dapat dihitung menggunakan rumus:

A adalah luas plat dan d adalah jarak antara dua plat, dan adalah konstanta dielektrik (
).
Variasi penggunaan kapasitor adalah dapat dimanfaatkan untuk:
- Menghalangi aliran tegangan DC dan memperbolehkan aliran tegangan AC, sehingga digunakan untuk coupling sirkuit.
- Mengalihkan frekuensi sinyal yang tidak diinginkan ke tanah.
- Dapat digunakan untuk pergeseran fase dan untuk menciptakan time delay.
- Dapat digunakan untuk filter, terutama untuk menghilangkan gelombang pada bentuk gelombang yang telah diubah menjadi DC (ripple tegangan).
- Dapat digunakan untuk mendapatkan frekuensi yang disesuaikan.
- Dapat digunakan sebagai starter motor (motor 1 fase, seperti motor pompa air di rumahan).

Sumber: https://www.protoexpress.com/kb/basic-components-overview/
Induktor
Induktor (juga disebut sebagai kumparan atau choke) adalah komponen listrik pasif dua terminal yang menyimpan energi magnetik saat arus listrik mengalir melalui dalamnya. Komponen ini terdiri dari kawat isolasi yang dililit menjadi kumparan di sekitar inti bahan tertentu (udara, besi, bubuk besi, atau bahan ferit) dalam bentuk spiral.
Induktor dilambangkan dengan induktansi ‘L’ dan satuan ukurannya adalah Henry (H). Nilai induktor biasanya berkisar antara 1 µH hingga 2000 mH.

Sumber: https://www.protoexpress.com/kb/basic-components-overview/
Ketika arus yang berubah-ubah mengalir melalui induktor, medan magnet terbentuk yang menginduksi gaya gerak listrik (emf) (tegangan) dalam induktor. Tegangan V pada induktor dengan induktansi L diberikan oleh:

Referensi:
[1] T. H. Glisson, Jr., “Introduction,” in *Introduction to Circuit Analysis and Design*, 1st ed., Dordrecht, Netherlands: Springer, 2011, ch. 1, pp. 1–17, doi: 10.1007/978‑90‑481‑9443‑8.
[2] J. A. Svoboda dan R. C. Dorf, *Introduction to Electric Circuits*, 9th ed. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, 2014.
[3] Charles K. Alexander, Matthew N.O. Sadiku, “Fundamentals of Electric Circuits”, 5th ed., McGraw-Hill Co, 2013, ISBN 978-0-07-338057-5
[4] “Basic Electronic Components – Sierra Circuits,” *ProtoExpress Knowledge Base*, Proto Express (Sierra Circuits), Sunnyvale, CA, USA. [Online]. Available: https://www.protoexpress.com/kb/basic-components-overview/. Accessed: Jul. 30, 2025.
[5] D. Baker, “Introduction Active Vs Passive Electronic Components,” Erie Institute of Technology Blog, Okt. 23, 2023. Diakses: Jul. 31, 2025. [Daring]. Tersedia: https://erieit.edu/introduction-active-vs-passive-electronic-components/
[6] GeeksforGeeks, “Difference between Active and Passive Component,” GeeksforGeeks, Feb. 07, 2023. Diakses: Jul. 31, 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.geeksforgeeks.org/electrical-engineering/difference-between-active-and-passive-component/